Setiap manusia berhak bahagia. Itu fitrah yang Allah tanamkan dalam dada, sebagaimana Dia menanamkan harapan pada setiap fajar yang terbit. Tidak ada jiwa yang diciptakan untuk selamanya muram, tidak ada hati yang ditakdirkan untuk selalu terpenjara dalam duka. Namun Islam mengajarkan, kebahagiaan bukanlah kebebasan tanpa arah, melainkan kebebasan yang berpijak pada kebenaran. Ia seperti burung yang terbang tinggi...ia bebas, tetapi tetap tunduk pada langit yang menaunginya. Bahagia dalam koridor yang Allah benarkan adalah kebahagiaan yang tidak melukai nurani. Ia lahir dari sesuatu yang halal, tumbuh dari niat yang bersih, dan berakhir dengan ketenangan yang tidak meninggalkan penyesalan. Berbeda dengan bahagia semu yang sesaat menyala, namun kemudian padam oleh rasa bersalah. Islam tidak melarang bahagia, bahkan membuka pintu-pintunya seluas mungkin..asal kita tetap berjalan di jalur yang diridhai-Nya.