Dalam kisahnya, kancil dikenal sebagai hewan yang cerdik dan lincah, sering kali hewan lainnya bahkan manusia tertipu dan terpedaya olehnya. Meski identik dengan kecerdikan karena tipu muslihatnya, namun dongeng ini tetap memiliki sisi positif yang mengandung pesan moral secara tersirat lho Bunda. Misalnya, ketika kawanan buaya ingin memakan si kancil, dia membodohi para buaya untuk berbaris terlebih dahulu agar dapat menyeberangi sungai dengan menaiki satu persatu punggung dari buaya tersebut hingga dia selamat. Hal ini menunjukan ketenangan si kancil dalam menghadapi masalah. Dengan menggunakan akal pikirannya, dia mampu mencari jalan keluarnya. Sebuah studi berjudul Analisis Buku Dongeng Si Kancil Karya Tira Ikranegara dalam Peningkatan Nilai Moral menyebutkan bahwa kisah si Kancil ini mengajarkan anak untuk berpikir kritis. Jika seekor kancil saja bisa menggunakan akal dan pikirannya ketika mendapatkan masalah, mengapa manusia yang diberikan kelebihan akal dan pikiran tidak bisa? Nilai-nilai positif seperti itulah yang diperlukan dalam mendidik anak. Bunda bisa memasukan cerita kancil sebagai materi dongeng anak sebelum mereka beranjak tidur. Baca Juga : 3 Cerita Fabel Populer untuk Anak Beserta Pesan Moralnya Kumpulan dongeng si kancil Terdapat beberapa versi tentang dongeng si kancil. Kebanyakan dari kisahnya disandingkan dengan tokoh lain seperti kancil dan buaya hingga kancil dan pak tani. Adapun berikut kumpulan kisahnya: Happy Asian family mother and daughter on bed in bedroom say good night before sleepIlustrasi membacakan dongeng/ Foto: iStockphoto/Nattakorn Maneerat Kancil dan buaya Dikisahkan pada suatu hari, kancil yang lapar sedang berjalan-jalan di dalam hutan untuk mencari makanan. Tubuhnya terasa lemas karena seharian tidak mendapat cukup asupan. Hingga dia tiba di suatu sungai. Tanpa sengaja, dia melihat makanan kesukaannya di seberang sana. Dia pun berniat untuk segera menyeberangi sungai tersebut. Namun, di tengah-tengah usaha percobaanya, dia dihadang oleh seekor buaya yang mencoba untuk menyantapnya. Ya, ternyata si kancil harus menyeberangi sungai yang dipenuhi sekumpulan buaya yang lapar. Meski ada perasaan takut, si kancil pun tidak kehabisan akal. Dengan kecerdikannya, dia berkata pada buaya bahwa ia sedang dalam kondisi lapar. Sehingga membuat tubuhnya kurus kering dan tidak enak untuk disantap. Kancil pun menjelaskan sedang membutuhkan makanan yang ada di seberang sungai, dengan dalih tubuhnya akan semakin gemuk setelah makan yang tentunya lebih enak disantap oleh buaya dan teman-temannya. Mendengar hal itu, buaya pun tertarik. Kemudian kancil menyuruh para buaya untuk berbaris berjajar. Kancil pun lantas menginjak barisan buaya itu, satu per satu sambil menghitungnya. Padahal dia sedang memperdaya semua buaya tersebut agar bisa selamat sampai seberang sungai. Kancil dan harimau Pada suatu hari, si kancil sedang berjalan-jalan di hutan sambil menikmati rumput santapannya. Tiba-tiba dia dikagetkan dengan seekor Harimau kelaparan yang muncul tepat berada di depannya. Harimau tersebut berniat memangsa kancil untuk dijadikan santapannya. Sadar kalau hidupnya dalam bahaya, si Kancil pun tidak kehabisan akal. Dia berkata jika harimau memakannya sekarang maka harimau akan melewatkan kesempatan untuk mendapatkan sabuk sang dewa. Siapapun yang memakainya, maka dia akan bisa terbang dan kuat seperti dewa yang juga pasti akan menjadi raja hutan selamanya. Mendengar cerita tersebut, harimau tertarik dan urung memakan kancil, tetapi dengan syarat kancil harus menunjukkan dimana sabuk dewa itu berada. Akhirnya Kancil menunjukkan tempat sabuk dewa itu berada. Tepatnya di pohon dekat sungai. Sabuk tersebut terlihat tergantung di atas pohon. Tanpa berpikir panjang, harimau pun hendak mengambil sabuk tersebut. Namun bukanya sabuk dewa yang dia dapat, melainkan seekor ular raksasa yang berada depannya sembari melilit si harimau.
