Resensi Film Monster, Jepang 2023

Resensi Film Monster, Jepang 2023

@Haeganuel Atalaric
0Usos
0Comparte
0Me gusta
0Guardado por

Film Monster (2023) merupakan karya sinematik yang menonjol dari sutradara ternama Hirokazu Kore-eda, dengan naskah ditulis oleh Yuji Sakamoto. Film ini dirilis perdana di Festival Film Cannes pada Mei 2023 dan tayang luas di Jepang mulai 2 Juni 2023, berdurasi 127 menit, dan diproduksi oleh perusahaan seperti Aoi Pro serta dijadwalkan tayang di berbagai festival internasional. Pemain utamanya meliputi Sakura Ando sebagai Saori Mugino (ibu tunggal), dua aktor cilik berbakat, Soya Kurokawa sebagai Minato Mugino dan Hinata Hiiragi sebagai Yori Hoshina, serta Eita Nagayama sebagai Mr. Hori sebagai guru mereka berdua disekolah. Film ini berhasil menyabet penghargaan akting di festival-film bergengsi. Cerita film ini dibangun melalui struktur naratif unik yang mirip dengan gaya Rashomon karya Akira Kurosawa, yakni tiga perspektif berbeda yang secara bertahap mengungkap lapisan kebenaran. Dimulai dari sudut pandang Saori, seorang ibu yang panik karena anaknya yang bernama Minato, pulang dengan baju basah dan rambut tercukur sepihak, serta mengeluh otak babi dari guru sekolahnya, yakni Mr. Hori. Saori menuduh Hori melakukan penganiayaan, memicu konflik dengan pihak sekolah. Kemudian, perspektif bergeser ke Hori, yang menggambarkan Minato sebagai anak bermasalah yang suka berbohong dan bertengkar dengan temannya Yori, sehingga tuduhan ibu justru terbalik. Akhirnya, perspektif ketiga dari Minato dan Yori mengungkap rahasia persahabatan mereka yang dalam, termasuk pelarian ke terowongan kereta tua, isu bullying, dan eksplorasi identitas diri yang sensitif tanpa eksploitasi berlebih. Alur ini tidak hanya membangun ketegangan emosional, tetapi mengkritik prasangka sosial, dinamika keluarga broken home, serta tekanan lingkungan sekolah di Jepang modern. Kelebihan utama film ini terletak pada penguasaan Kore-eda dalam menggambarkan psikologi manusia secara halus, dengan sinematografi cantik oleh Ryûto Kondô yang menangkap nuansa musim panas Jepang—hujan deras, angin kencang, dan cahaya lembut—seolah menjadi metafor kekacauan batin para tokoh. Akting para pemeran cilik luar biasa natural, membuat penonton ikut merasakan kepolosan dan kepedihan mereka, sementara Sakura Ando menghidupkan perjuangan ibu single parent dengan intensitas yang mendalam. Musik latar minimalis dari Ryuichi Sakamoto menambah lapisan emosional tanpa berlebihan, dan plot twist-nya brilian karena mengajak refleksi diri atas asumsi kita sendiri. Namun, kekurangan film ini adalah alur bagian awal yang terasa lambat bagi penonton yang terbiasa dengan ritme Hollywood cepat, serta ending ambigu yang meninggalkan beberapa pertanyaan terbuka—seperti nasib Yori dan Minato—mungkin membuat sebagian audiens frustrasi karena tidak ada resolusi mutlak. Selain itu, tema identitas gender dan homofobia disampaikan subtil, tapi bisa terasa kurang eksplisit bagi yang mencari pesan sosial tegas. Jadi teman-teman, Monster adalah mahakarya drama psikologis yang cerdas dan menyentuh hati, berhasil memenangkan Queer Palm dan Best Screenplay di Cannes, serta dinominasikan Oscar untuk Jepang. film ini superior dalam mengeksplorasi kompleksitas manusia dibanding karya Kore-eda sebelumnya seperti Shoplifters, karena narasi multi-perspektifnya yang inovatif. Sangat direkomendasikan untuk penggemar sinema arthouse, terutama yang menyukai tema empati dan kebenaran relatif—nontonlah di layar lebar untuk merasakan intensitasnya penuh, atau di platform streaming seperti Netflix jika tersedia di wilayah Anda. Jangan lewatkan, karena ini bukan sekadar film anak sekolah, tapi cermin masyarakat yang dalam.

id
Público
Muestras
Aún no hay muestras de audio