Dan pada akhirnya, Sejauh apapun namamu ku imani. Sejauh itu pula aku terdampar di puncak asing ini. Kita yang terlalu tua untuk menerka isi hati manusia. Menjelma para petapa yang menidurkan bulan di punggungnya. Menjerat satu dan yang lain. Terbiasa mengkultuskan nama-nama. Sepanjang gunung Sagara. Ku rapal ulang namamu berkali kali. Dahan dan tangkai cemara menekuni jejak langkah kita. Langkah langkah yang menolak untuk di baptis pada ketidaksempurnaan. Langkah langkah yang terbiasa menujum air matanya sendirian. Perlahan angka angka mulai berhitung mundur. Tentang seberapa jauh kita menuju kehilangan. Dari tempat para dewa memancang paku di bumi tanah garut. Dari guntur hingga jagapati. Namamu yang ku bawa paksa menjauh dari mulut kota. Mengampu keyakinan demi keyakinan yang tak dapat ditadaburi. Di balik halimun gunung putri. Dewi rengganis dan para dewa menekuni percakapan kita. Mulutku beku sempurna. Tubuhku hilang nyawa.
