Dalam beberapa minggu terakhir, pertumbuhan followers nya sebenarnya cukup lambat. Kadang dalam seminggu cuma nambah 10, kadang juga nggak ada peningkatan sama sekali. Ada juga momen di mana malah turun karena mungkin banyak yang unfollow. Jadi bisa dibilang belum stabil, apalagi kami belum ada program khusus untuk meningkatkan jumlah followers secara konsisten. Sejujurnya belum ada strategi yang benar-benar spesifik atau terstruktur sih. Selama ini kami hanya fokus upload konten promosi atau menu baru memakai Ads, jadi kita jarang memposting hal-hal lain selain promosi. Meskipun menggunakan Ads tetapi tetap saja tidak ada tanda-tanda meningkatkan jumlah followers. Kadang juga ikut tren TikTok buat disalin ke Instagram Reels, tapi itu juga nggak rutin. Kami belum pernah jalankan giveaway, pernah endorse tapi nggak rutin paling kalau ada yang mau kerjasama aja dengan pihak terkait, dan belum pernah paid promote secara serius. Kalau tujuan kita menggunakan pemasaran digital itu lebih fokus kepada penjualan, memperluas jangkauan pasar, kesadaran merek dan citra positif. Biasanya setelah upload, responnya baru kelihatan sekitar beberapa hari kemudian, kadang juga berhari-hari bahkan berbulan-bulan. Kadang kalau pagi malah sepi banget. Interaksi juga nggak konsisten, ada yang langsung dapat like sekitar 5-20 like, ada juga yang stuck di bawah 20. Jadi bisa dibilang belum tahu pasti waktu posting terbaiknya. Sejauh ini belum ada analisis atau data yang kami pakai untuk menentukan jam posting. Biasanya sih asal sempat aja, entah itu pagi atau malam. Kadang kalau lagi ramai pesanan, malah nggak sempat update sama sekali. Jadi kami belum punya jam posting yang tetap dan terbukti efektif. Sampai saat ini, belum pernah ada konten yang bisa dibilang benar-benar viral. Paling yang sedikit ramai itu video dari influencer yang mentions akun Instagram kita, itu influencer juga dari pihak dinas (organisasi). Tapi itu pun jarang dibagikan ke banyak orang, paling dibagikan 2-4 kali. Viral menurut kami sih masih jauh banget, soalnya like-nya belum tembus ribuan, komentar dan dishare nya juga masih sedikit. Dari yang saya perhatikan, konten yang menyentuh sisi emosi, lucu, dan lebih ke unik sih yang biasanya lebih gampang nyebar. Tapi kami masih kesulitan bikin konten seperti itu. Selain itu, desain dan kualitas video juga berpengaruh. Konten kami sekarang masih sangat sederhana, dan belum terlalu bisa memancing orang buat share. Sejujurnya saya belum pernah benar-benar memperhatikan durasi kunjungan secara detail. Insight Instagram jarang saya buka. Saya sendiri juga kurang paham membaca data seperti itu, karena mengingat saya sedang kekurangan SDM. Jadi ya, selama ini belum jadi perhatian khusus karena saya juga sibuk ngurusin yang lain. Mungkin konten yang menampilkan proses masak. Tapi karena kami jarang update, saya kurang tahu apakah itu bikin orang lama-lama lihat akun kita. Sepertinya konten behind the scenes juga dapat respons bagus, tapi kami belum pernah bikin. Jadi belum bisa ditentukan juga mana yang benar-benar bikin orang betah. Kalau jujur ya, saya jarang cek jumlah pengunjung profil. Paling cuma pas ada promo memakai Ads, baru saya buka insight buat lihat ada peningkatan atau enggak. Selebihnya nggak terlalu dipantau. Karena saya masih pegang operasional juga, jadi kadang nggak ada waktu buat cek secara rutin jumlah kunjungan profil. Waktu kami posting promo di Ads, biasanya kunjungan naik, terutama kalau pakai kata-kata diskon. Tapi pas konten biasa aja, kayak cuma foto pizza doang tanpa info menarik, biasanya view-nya sedikit, kadang datar kadang juga turun. Jadi kelihatan banget kalau konten promosi masih jadi penarik utama, walaupun seharusnya kita juga punya variasi konten lain. Pernah sih, terutama waktu kami posting promo di Ads seperti diskon untuk varian tertentu. Biasanya hari itu juga langsung ada order masuk, dan banyak yang bilang tahu dari Instagram. Tapi kalau misalkan kontennya cuma foto pizza saja tanpa penawaran atau visual yang menarik, sepertinya itu nggak akan terlalu ngaruh ke penjualan. Jadi belum semua konten bisa ngedorong penjualan. Kalau peningkatan penjualan itu perbulannya rata-rata antara 15%-20%, dalam setahun ini tidak ada kenaikan ataupun penurunan. Ya paling kenaikkannya antara 15% ke 17% seperti itu, atau sekalinya turun itu antara 18% ke 15% begitu terus selama satu tahun ini. Yang paling efektif sejauh ini ya promo dan diskon di Ads, terutama kalau kami pakai bahasa Sunda atau ada unsur lokalnya. Tapi masalahnya, kami belum punya strategi konten yang rutin dan terjadwal, jadi hasilnya belum maksimal. Harusnya sih ada perencanaan konten biar tiap minggu atau tiap hari ada konten yang bisa bantu naikin omset. Instagram itu peranannya penting banget, apalagi untuk generasi muda, keluarga muda, serta pecinta kuliner yang tertarik mencoba sesuatu yang berbeda yang jadi target utama kita. Tapi saya akui, kami belum maksimal menggunakannya. Belum ada jadwal posting tetap, belum punya konsep visual yang konsisten, kecuali logo dan warna. Kadang upload foto seadanya, jadi agak susah juga buat ningkatin kesadaran merek secara serius. Paling untuk warna dan logo saja yang konsisten menggunakan warna ungu disetiap postingan konten, kalau untuk font belum konsisten jadi kami masih ngacak. Kalau feeds Instagram Alhamdulillah sudah punya ciri khas visual yang konsisten seperti penggunaan warna ungu. Rencana kedepannya sih mau bikin template konten biar mempertahankan unsur visual yang sudah ditetapkan biar bukan hanya feeds saja tetapi ke semua seperti Instagram story.
