irasional 1
بواسطة D GrafisHai Sobat Irasional diamanapun Anda Berada kali ini kami akan menceritakan pengalaman seseorang yang bersinggungan dengan dunia supranatural.
Apabila kalian juga memiliki cerita seram yang ingin divisualkan dan dibagikan, maka kirim di email cerita dot irasional at gmail dot com.
Sebelum menyimak cerita ini jangan lupa klik tombol subscribe, like, tulis komentar, atau bagikan link video ini.
Malam sudah merangkak melewati jam dua belas ketika Mail menyelesaikan tugas kelompok di kampus. Sebagai mahasiswa semester akhir, tekanan skripsi dan laporan praktikum membuatnya sering pulang larut. Kampusnya yang berada di pinggiran kota dikelilingi perkebunan dan hutan kecil, jalanan menuju kosannya sepi, dan hanya ada satu jalur utama yang harus dilewati: Jalan Raya Mangunreja, yang terkenal angker sejak dulu.
Mail bukan tipe orang yang mudah takut. Dia realistis, percaya pada logika, dan merasa hantu hanyalah cerita karangan orang-orang untuk menakut-nakuti.
Malam itu, setelah berpamitan dengan teman-temannya, Mail menyalakan motor bebek tuanya dan melaju pelan menembus udara dingin. Lampu motor kuning temaram, dan jalanan sudah sangat sepi. Hanya sesekali terdengar suara jangkrik dan sesekali lolongan anjing dari kejauhan.
Saat memasuki area pohon besar yang tumbuh di sisi kiri jalan—pohon beringin tua yang katanya ditanam sejak zaman Belanda—Mail merasakan hawa dingin yang berbeda. Angin yang bertiup seolah menggigit kulitnya. Ia mengecilkan gas motornya dan melirik sebentar ke arah pohon itu.
Lalu... dia melihatnya.
Seorang perempuan berdiri di bawah pohon, memakai kebaya putih dan rok panjang. Rambutnya terurai rapi, wajahnya menunduk. Wajah yang sekilas terlihat sangat cantik, pucat, dengan senyum tipis. Mail mengerem.
"Aduh, jam segini masih ada orang?" gumamnya.
Wanita itu mengangkat wajahnya, senyumnya manis tapi matanya kosong.
"Mas... boleh nebeng?" suaranya pelan, lembut.
Mail ragu. Tapi melihat ke sekitar yang kosong dan terpencil, rasanya kejam kalau menolak perempuan sendirian di tempat seperti itu. Lagipula, dia kelihatan normal.
Mail mengangguk. "Iya, naik aja. Mau ke mana?"
"Ke arah kota... nanti saya turun di depan gang Karangjati," jawab wanita itu sambil naik ke jok belakang.
Begitu dia duduk, Mail merasa motornya lebih berat dari biasanya. Tapi dia mencoba mengabaikannya.
Mereka melaju dalam diam. Jalan yang sepi membuat suara mesin motor terdengar jelas. Mail mencoba mengajak ngobrol.
"Namanya siapa, Mbak?"
Hening.
Mail melirik kaca spion. Wanita itu menunduk, rambutnya menutupi wajah.
"Mbak?"
"Tadi Mas lihat saya cantik, ya?" tanyanya tiba-tiba.
Mail kaget. Pertanyaannya aneh.
"Iya... eh, maksudnya... Mbak kelihatan anggun," jawab Mail gugup.
Wanita itu terkekeh pelan, suaranya serak meski tetap terdengar lembut.
"Mas Mail... Mas tau nggak, saya sudah lama nunggu di pohon itu."
Mail mengerutkan kening. "Kok Mbak tahu nama saya?"
Kaca spion bergetar. Suhu di sekeliling mendadak menurun drastis.
"Saya tahu semuanya tentang Mas..."
Mail merinding. Ia mulai merasa ada yang tak beres. Dia melirik ke kaca spion lagi.
Dan saat itu dia melihatnya.
Wajah perempuan itu telah berubah.
Mata putih melotot, kulit wajah penuh luka sobek, bibirnya robek sampai ke telinga. Darah menetes dari lubang hidungnya. Rambutnya kini kusut, menjuntai seperti akar pohon basah.
"ASTAGHFIRULLAH!" Mail spontan memelintir gas motornya sekuat tenaga.
Motor meraung, berusaha kabur dari sosok mengerikan di belakangnya. Tapi semakin cepat ia melaju, suara tawa perempuan itu justru makin keras di telinganya. Suara tawa yang berubah jadi jeritan melengking, menusuk telinga.
"Mau ke mana, Mas Mail...? Kan kamu sudah boncengin aku!" jeritnya.
Mail panik. Tangannya gemetar di setang motor. Air mata keluar tak sadar. Jalan yang dilalui terasa seperti tak berujung.
Tiba-tiba, motornya mati mendadak. Total. Mesin berhenti, lampu padam.
Mail terjatuh, tubuhnya terpental ke rerumputan di pinggir jalan. Dalam remang cahaya bulan, ia berusaha bangkit, tapi lututnya lemas.
Dia menoleh ke belakang.
Tak ada siapa-siapa.
Hanya motor yang tergeletak di tengah jalan.
Tapi suara itu masih ada.
"Kenapa Mas turun...? Ayo lanjutkan perjalanan kita..."
Mail memutar kepalanya ke arah pohon besar tadi. Di sana, sosok perempuan itu berdiri di atas dahan pohon, rambutnya menjuntai sampai tanah. Matanya menyala merah, wajahnya menatap langsung ke arah Mail.
Perempuan itu melayang turun, tanpa suara, seolah ditarik oleh angin.
Mail gemetar. Mulutnya bergetar membaca doa.
Perempuan itu melayang mendekat, semakin dekat... sampai hanya berjarak satu meter dari wajahnya.
Lalu dia berbisik:
"Sekarang gantian, Mas yang aku bonceng..."
Tiba-tiba tubuh Mail terasa ringan, seperti melayang. Dunia berputar. Ia merasa ditarik oleh kekuatan tak terlihat. Pandangannya mengabur. Lalu... gelap.
________________________________________
Mail terbangun di rumah sakit dua hari kemudian. Ibunya menangis di sisi ranjang, memeluknya.
"Mail! Ya Allah, kamu sadar juga, Nak!"
Mail bingung. Kepalanya berat. Beberapa perawat masuk mengecek kondisinya.
Menurut dokter, Mail ditemukan oleh warga pagi hari, tergeletak pingsan di pinggir Jalan Raya Mangunreja. Motornya rusak parah, seperti habis tertabrak sesuatu. Namun tak ada luka serius di tubuhnya, hanya lebam-lebam dan syok berat.
Yang membuat bulu kuduk merinding adalah fakta berikut:
Di jok belakang motornya ditemukan bekas duduk yang penuh dengan bekas darah dan rambut panjang yang tidak bisa dijelaskan asal-usulnya.
Mail bercerita kepada keluarganya tentang kejadian malam itu, namun tidak ada yang benar-benar percaya. Hanya seorang kakek tua di kampungnya yang memberinya penjelasan.
"Itu si Sundari... dulunya gadis cantik, mahasiswa juga. Dia dulu dibunuh pacarnya dan dibuang ke bawah pohon itu. Sejak saat itu, siapa pun yang lewat malam dan terlihat cocok, akan 'dibonceng'."
Mail pindah kos tak lama setelah sembuh. Dia tak pernah lagi lewat jalan itu, bahkan di siang hari. Motornya dijual, dan sampai kini, ia tak pernah naik motor sendirian di malam hari.
Namun cerita Mail menyebar ke teman-teman kampus. Beberapa mengaku pernah melihat perempuan berkebaya berdiri di bawah pohon beringin besar itu. Ada yang bilang dia menangis. Ada yang bilang dia tersenyum.
Dan beberapa... tidak pernah pulang.