Narator Sejarah Muda
بواسطة DIMAS HANGGOROA: Oke, kalian pernah dengar gak sih, teman-teman, kalau dulu Bung Karno itu pernah mengatakan kalau Pancasila itu bisa diperas? Dan diperas di sini bukan dalam artian yang sebenarnya, Bung. Maksudnya, dari lima sila, Pancasila bisa diringkas menjadi tiga, lalu dari tiga itu bisa dipadatkan lagi menjadi satu nilai utama. Dan nilai utama itu adalah gotong royong.
Menurut saya, ini bukan sekadar fakta sejarah yang menarik. Ini adalah cara untuk memahami bahwa sejak awal, Pancasila tidak hanya lahir sebagai rangkaian kata indah yang harus dihafalkan. Oke, sebelum kita lanjutkan kepada materi pembahasan selanjutnya, perkenalkan, nama saya Sigitang Rianto dari Prodi Sistem Informasi. Dan pada video kali ini, saya akan membahas tentang pelajaran sejarah Pancasila bagi generasi muda. Mari kita lanjut kepada pembahasannya.
Lalu, kalau inti Pancasila adalah gotong royong, berarti dari awal Pancasila bukan dibuat untuk membuat satu kelompok merasa paling aman, tetapi untuk mencari cara agar bangsa yang begitu beragam ini bisa tetap hidup secara bersama-sama. Karena menurut saya, membahas Pancasila itu bukan cuma membahas masa lalu, tetapi juga membahas bagaimana kita hidup hari ini di tengah perbedaan yang semakin mudah diperdebatkan.
Pancasila itu bukan hanya sesuatu yang kita ucapkan saat upacara, teman-teman. Bukan hanya materi pelajaran yang kita baca menjelang ujian, lalu setelah itu perlahan kita lupakan maknanya. Lebih dari itu, Pancasila lahir sebagai pedoman tentang bagaimana bangsa Indonesia bisa hidup bersama. Karena Indonesia bukan bangsa yang sederhana, teman-teman. Indonesia adalah ruang yang luas, tempat berbagai perbedaan ditemui. Mulai dari perbedaan agama, suku, budaya, bahasa, daerah, cara pemikiran, bahkan cara memandang kehidupan.
Dan justru di situlah letak keindahannya, teman-teman. Pancasila hadir bukan untuk menyeragamkan semua orang. Pancasila hadir agar orang-orang yang berbeda tetap dapat tinggal dalam satu rumah yang sama, yaitu Indonesia. Sebuah rumah tempat setiap orang bisa diterima. Tempat setiap orang bisa hidup dengan tenang. Tempat setiap orang bisa beribadah sesuai keyakinannya. Tempat perbedaan tidak dianggap sebagai ancaman, tetapi sebagai kenyamanan yang harus dijaga dengan kebebasan.
Jadi, Pancasila bukan tentang siapa yang paling menang. Bukan tentang kelompok mana yang paling kuat. Dan bukan tentang siapa yang suaranya selalu didengar. Pancasila adalah tentang bagaimana Indonesia bisa menjadi rumah bersama bagi semua orang.
Salah satu peristiwa penting yang menggambarkan hal itu adalah perubahan rumusan sila pertama. Pada tanggal 22 Juni 1945, Panitia IX yang diketuai oleh Insinyur Soekarno berhasil merumuskan sebuah dokumen penting yang kita kenal sebagai Piagam Jakarta. Saat itu rumusan sila pertama berbunyi, "Ketuhanan dengan menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya."
Jika dilihat sekilas, kalimat ini mungkin tampak seperti biasa saja. Namun, sebenarnya di balik kalimat itu ada persoalan besar yang sedang dipikirkan: bagaimana sebuah dasar negara mampu merangkul seluruh rakyat Indonesia yang begitu beragam.
Kemudian, sebelum UUD 1945 disahkan pada tanggal 18 Agustus 1945, muncul masukan dari sebagian wakil Indonesia bagian timur. Mereka merasa bahwa rumusan tersebut belum sepenuhnya mewakili seluruh masyarakat Indonesia. Dan menurut saya, bagian ini penting untuk direnungkan, karena sejak awal Indonesia memang bukan bangsa dengan satu warna. Bukan bangsa dengan satu agama, bukan bangsa dengan satu suku, bukan bangsa dengan satu budaya.
Indonesia adalah bangsa yang luas, bangsa yang di dalamnya hidup banyak latar belakang, banyak keyakinan, banyak bahasa, dan banyak cara melihat dunia. Ada yang berasal dari barat, tengah, sampai timur Indonesia. Ada yang berbeda adat, berbeda keyakinan, berbeda kebiasaan, tetapi semuanya tetap bagian dari bangsa yang sama.
Dan akhirnya, para pendiri bangsa memilih untuk kembali bermusyawarah. Rumusan sila pertama kemudian diubah menjadi "Ketuhanan Yang Maha Esa". Menurut saya sendiri, ini bukan sekadar perubahan kalimat. Ini adalah bukti bahwa para pendiri bangsa memiliki kebesaran hati untuk menempatkan persatuan di atas kepentingan golongan.
Mereka sebenarnya bisa saja, kok teman-teman, mempertahankan pendapat masing-masing. Mereka bisa saja berkata, pokoknya harus begini, pokoknya harus begini. Mereka bisa kok melakukan itu. Tetapi mereka tidak memilih jalan itu. Mereka memilih untuk mendengar, mereka memilih untuk berdialog, mereka memilih untuk menurunkan ego, dan yang paling penting, mereka memilih Indonesia.
Dan dari peristiwa ini, nilai Pancasila terlihat sangat jelas, yaitu toleransi, musyawarah, kebijaksanaan, gotong royong, dan persatuan. Dan kalau kita tarik ke masa sekarang, nilai itu masih sangat dekat dengan kehidupan generasi muda. Apalagi di hari ini, kita hidup di zaman media sosial. Zaman di mana perbedaan pendapat bisa dengan cepat berubah menjadi pertengkaran. Zaman di mana semua orang mudah saling menyindir, saling menjatuhkan, bahkan saling membenci hanya karena merasa pandangannya paling benar.
Padahal, sejarah Pancasila mengajarkan bahwa perbedaan tidak harus selalu berakhir dengan pemusuhan. Perbedaan bisa menjadi ruang belajar kalau kita mau saling mendengar, teman-teman. Perbedaan bisa menjadi kekuatan kalau kita tidak hanya sibuk membela ego kita sendiri. Dan perbedaan bisa menjadi dasar persatuan kalau kita sadar bahwa kita itu sebenarnya tinggal di rumah yang sama, teman-teman, yaitu Indonesia.
Jadi, menurut saya, pelajaran besar dari sejarah lahirnya Pancasila adalah: bangsa ini berdiri bukan karena semua orang memiliki pendapat yang sama. Bangsa ini berdiri karena orang-orang yang mau duduk bersama, saling mengalah demi sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri. Itulah yang perlu dipahami oleh generasi muda hari ini.
Pancasila bukan hanya sesuatu yang kita hafalkan. Pancasila adalah cara kita bersikap. Cara kita menghargai orang lain. Cara kita menghadapi perbedaan. Cara kita berbicara di ruang publik. Cara kita menggunakan media sosial. Dan cara kita menjaga Indonesia agar tetap menjadi rumah bersama.
Karena pada akhirnya, menjaga Pancasila tidak selalu dimulai dari langkah besar. Kadang, ia dimulai dari hal-hal kecil yang kita anggap sederhana: dari menahan diri untuk tidak merendahkan orang lain yang berbeda pendapat, dari memilih untuk tidak menyebarkan kebencian, dari belajar mendengarkan sebelum menghakimi, dan dari kesadaran bahwa persatuan tidak akan pernah tumbuh dari ego yang terlalu tinggi.
Karena Indonesia tidak dibangun oleh orang-orang yang selalu sama. Indonesia dibangun oleh orang-orang yang berbeda, tetapi bersedia berjalan ke arah yang sama.