Ajis
von lalu fantoni
Burung Merak Jawa denga nama latin pavo muticus, dan julukan
Sang Penjaga Hutan Tropis Jawa
Burung merak jawa, yang dikenal secara ilmiah sebagai Pavo muticus, adalah salah satu jenis burung merak dari tiga spesies yang ada di dunia. Spesies ini dikenal karena keindahan bulunya yang berkilau dan posturnya yang anggun. Dibandingkan dengan merak India (Pavo cristatus), merak jawa memiliki tampilan yang lebih ramping dan warna hijau keemasan yang dominan. Mereka merupakan simbol keanggunan dan kekayaan biodiversitas Asia Tenggara, khususnya di Indonesia.
Ciri-ciri Fisik
Merak jantan dewasa dapat memiliki panjang tubuh hingga 2,3 meter, sebagian besar panjang tersebut berasal dari bulu ekor hiasnya (train) yang indah.
Warna bulu Dominan hijau metalik di bagian leher dan dada, dengan corak keemasan yang memantulkan cahaya saat terkena sinar matahari. Sayapnya memiliki warna biru, hijau tua, dan cokelat.
Baik jantan maupun betina memiliki jambul tegak di atas kepala, yang terdiri dari bulu-bulu halus seperti kawat tipis.
Perbedaan jantan dan betina:
Jantan: Lebih besar, warna lebih cerah, memiliki bulu ekor panjang untuk menarik betina.
Betina: Lebih kecil, warna hijau zaitun dan tidak memiliki ekor panjang.
Perilaku dan Kebiasaan burung merak
Merak jawa adalah burung darat yang lebih suka berjalan dan mencari makan di tanah, meskipun mereka juga mampu terbang jarak pendek saat terancam.
Mereka adalah hewan omnivora, memakan berbagai jenis serangga, biji-bijian, reptil kecil, dan bahkan tumbuhan.
Suara merak jawa cukup nyaring dan keras, sering terdengar di pagi atau sore hari, digunakan untuk berkomunikasi atau memperingatkan bahaya.
Biasanya hidup soliter atau dalam kelompok kecil, tidak seperti kerabatnya, merak India, yang sering terlihat dalam kelompok besar.
Habitat dan Sebaran
Merak jawa menghuni hutan tropis dan subtropis, terutama di daerah dataran rendah, hutan sekunder, dan kawasan semak belukar. Di Indonesia, mereka dulunya tersebar luas di Pulau Jawa dan Bali. Namun kini, populasi mereka menyusut drastis dan hanya ditemukan di beberapa kawasan lindung, seperti:
Taman Nasional Baluran (Jawa Timur)
Taman Nasional Alas Purwo (Jawa Timur)
Taman Nasional Meru Betiri (Jawa Timur)
Taman Nasional Ujung Kulon (Banten)
Habitat ideal bagi mereka adalah wilayah yang cukup terbuka namun masih memiliki semak dan pohon sebagai tempat berlindung dan bertengger.
Status Konservasi
Merak jawa termasuk dalam daftar spesies terancam punah (Endangered) oleh IUCN (International Union for Conservation of Nature) dan masuk dalam Appendix II CITES, yang berarti perdagangan internasionalnya dibatasi. Ancaman utama terhadap kelangsungan hidup merak jawa adalah:
Kerusakan habitat akibat pembalakan liar, alih fungsi hutan, dan pertanian.
Perburuan liar, baik untuk dijadikan hewan peliharaan eksotis maupun diambil bulunya.
Fragmentasi populasi, membuat perkembangbiakan alami menjadi semakin sulit.
Upaya Konservasi
Pemerintah Indonesia dan sejumlah LSM telah melakukan berbagai upaya untuk menyelamatkan merak jawa, di antaranya:
Pelestarian habitat alami melalui penguatan taman nasional dan kawasan konservasi.
Pendidikan dan kampanye kesadaran masyarakat agar tidak memburu atau memelihara merak secara ilegal.
Program penangkaran di lembaga konservasi seperti Taman Safari, kebun binatang, dan pusat rehabilitasi.
Pengawasan ketat perdagangan satwa liar, termasuk penegakan hukum terhadap pelanggar.
Di budaya Jawa, merak sering dikaitkan dengan keindahan, kemegahan, dan kemurnian. Bulu merak kadang digunakan dalam seni tari atau sebagai simbol dalam karya-karya budaya tradisional. Namun sayangnya, popularitas ini juga membuat burung ini menjadi incaran kolektor ilegal.
Burung merak jawa bukan hanya ikon keindahan alam Indonesia, tetapi juga indikator kesehatan ekosistem hutan tropis. Keberadaannya yang semakin langka menjadi peringatan bagi kita semua untuk lebih peduli terhadap konservasi satwa liar dan pelestarian lingkungan. Dengan dukungan masyarakat, edukasi, dan kebijakan konservasi yang tepat, kita masih memiliki harapan untuk memastikan merak jawa tetap dapat hidup bebas di habitat aslinya.