Jandri
Jandri Mangallo에 의해Saya jandri.
Kadang… hidup ini nda’ selamanya mudah.
Ada waktu di mana kita jatuh,
dan rasanya dunia nda’ berpihak sama sekali.
Saya tau rasanya itu…
karena saya sendiri pernah di titik itu.
(Nada sendu)
Saya pernah berjuang habis-habisan,
tapi hasilnya kosong.
Dagangan sepi, kerjaan nda’ tentu,
orang-orang yang dulu dekat… pelan-pelan menjauh.
Kadang malam saya duduk di depan rumah,
pandang langit, tarik napas panjang,
dan bilang pelan,
> “Tuhan… saya capek.”
(Nada mulai naik – semangat muncul)
Tapi di saat hati paling lemah,
ada sesuatu di dalam diri bilang,
> “Jangan menyerah. Masih bisa bangkit.”
Waktu itu saya sadar…
selama saya masih bisa berdiri,
masih bisa usaha,
berarti saya belum kalah.
(Nada bersemangat tapi lembut)
Saya mulai lagi dari nol.
Jual apa yang bisa dijual,
kerja apa yang bisa dikerja.
Panas, hujan, lelah — saya tetap jalan.
Dan pelan-pelan, hasilnya mulai nampak.
Bukan karena saya hebat,
tapi karena saya nda’ berhenti.
(Nada hangat dan penuh makna)
Sekarang kalau ada orang yang bilang hidupnya berat,
saya cuma bilang begini,
> “Saya juga pernah di situ. Tapi ingat…
nda’ ada malam yang abadi. Akan datang juga pagimu.”
(Nada tegas dan penutup menggetarkan)
Karena hidup bukan soal siapa yang cepat,
tapi siapa yang kuat waktu semua terasa berat.
Saya jatuh berkali-kali…
tapi saya tetap bangkit.
Dan selama saya masih mau berjuang,
saya belum kalah