yaya's
Pistachio.Matcha에 의해Dalam sejarah keilmuan Islam, terdapat nama besar yang mungkin tidak sepopuler Imam Bukhari atau Muslim, namun karyanya memiliki bobot keilmuan yang luar biasa.
Ia adalah Abu al-Qasim Sulaiman bin Ahmad bin Ayyub al-Lakhmi ash-Shauri, atau lebih dikenal sebagai Imam Ath-Thabrani.
Lahir pada tahun 260 Hijriyah di kota Thabarriyah, wilayah Syam — yang kini termasuk wilayah Palestina.
Sejak kecil, Imam Ath-Thabrani menunjukkan minat besar pada ilmu hadis. Ia menempuh perjalanan panjang ke berbagai kota besar Islam seperti Mesir, Hijaz, Baghdad, hingga Khurasan, demi meriwayatkan dan memverifikasi hadis Nabi ﷺ.
Dikenal memiliki hafalan yang kuat dan sanad yang luas, beliau wafat pada tahun 360 Hijriyah di kota Isfahan, dalam usia sekitar 100 tahun.
Dari sekian banyak karyanya, tiga di antaranya dikenal sebagai karya paling monumental dalam bidang hadis, yaitu:
· Mu’jam al-Kabir
· Mu’jam al-Awsath
· Mu’jam ash-Shaghir
Ketiga kitab ini dikenal sebagai "Mu'jam" karena disusun dengan metode daftar atau indeks — tidak seperti kitab-kitab hadis lain yang umumnya disusun per bab fiqih.
Mu’jam al-Kabir adalah kitab terbesar yang ditulis Imam Ath-Thabrani.
Kitab ini mencakup lebih dari 20.000 hadis, dan disusun berdasarkan nama-nama sahabat Nabi.
Sistematikanya tidak berbasis tema, melainkan berbasis urutan alfabetis nama sahabat, dimulai dari sahabat yang dijamin masuk surga, selanjutnya diurutkan sesuai alfabet nama sahabat
Setiap hadis disebutkan lengkap dengan sanadnya, sehingga sangat penting dalam studi ilmu sanad dan perawi.
Jenis kitab ini adalah jami’ atau koleksi umum — mencakup hadis-hadis dalam berbagai bidang: aqidah, fiqih, sirah, akhlak, dan adab.
Meskipun sebagian hadis di dalamnya tergolong dha’if, nilai historis dan perbandingan sanad dalam kitab ini sangat berharga.
Selanjutnya adalah Mu’jam al-Awsath merupakan kitab yang berisi hadis-hadis gharaib dan nadir—yakni hadis-hadis unik yang tidak banyak diriwayatkan oleh imam-imam besar lainnya.
Imam Ath-Thabrani sendiri menyatakan bahwa kitab ini memuat hadis-hadis dengan jalur sanad tertentu yang langka.
Penyusunannya tetap mengikuti nama-nama gurunya berdasarkan susunan alphabet, bukan berdasarkan tema.
Kitab ini sangat bermanfaat untuk meneliti keunikan sanad, termasuk mengenal perawi jarang, dan menjadi pelengkap dari kitab-kitab yang menyaring hadis secara umum.
Para ulama hadis menilai kitab ini sebagai sumber penting untuk mendalami ilmu ilal dan sanad yang jarang diteliti.
Yang terakhir adalah Mu’jam ash-Shaghir, kitab terkecil dari ketiganya, namun bukan berarti paling ringan.
Kitab ini disusun berdasarkan alphabet nama-nama guru Imam Ath-Thabrani — yakni para ulama yang pernah mengajarkan hadis kepadanya.
Namun, berbeda dari kitab mu’jam al-awsat kitab mencantumkan satu hadis pilihan Dari setiap gurunya, dan menyebutkan sanadnya secara lengkap.
Kitab ini sekaligus menjadi bukti otentik transmisi ilmu dan sanad langsung dari guru ke murid.
Dengan gaya narasi yang ringkas namun padat, kitab ini sangat cocok digunakan untuk studi sanad dan peta transmisi ilmu hadis abad ke-3 Hijriyah.
Imam Adz-Dzahabi dalam Siyar A’lam an-Nubala’ menyebutnya sebagai al-Hafizh al-Kabir, ahli hadis besar yang menguasai jalur periwayatan dari timur ke barat.
Ibnu Hajar al-Asqalani berkata:
“Ia adalah seorang hafizh yang tsiqah, sangat banyak meriwayatkan hadis.”
Sedangkan Imam Al-Khatib al-Baghdadi menilai karya-karya Ath-Thabrani sebagai sumber yang sangat penting untuk memahami perkembangan sanad dan kualitas perawi.
Ketiga kitab Mu'jam-nya sering dijadikan rujukan oleh para ulama setelahnya, termasuk dalam pengumpulan hadis-hadis yang tidak ditemukan dalam Shahih Bukhari dan Muslim.
Dengan karya-karya besarnya, Imam Ath-Thabrani telah mengukir namanya dalam sejarah sebagai arsitek besar ilmu hadis.
Tiga Mu’jam yang ia tulis —Mu’jam al-Kabir, Mu’jam al-Awsath, dan Mu’jam ash-Shaghir—merupakan mahakarya dalam dunia periwayatan hadis.
Dengan metode penyusunan yang tidak biasa, Imam Ath-Thabrani menunjukkan keluasan sanad, kekuatan hafalan, dan ketajaman kritik ilmiahnya.
Bagi para peneliti dan pencinta hadis, karya-karya ini menjadi sumber utama dalam menelusuri periwayatan dan memverifikasi hadis-hadis yang tersebar dalam banyak kitab.
Semangat beliau dalam menuntut ilmu, bepergian jauh demi mencari hadis, dan menyusunnya dengan penuh amanah, adalah cermin dedikasi ilmiah yang tak ternilai.
Semoga Allah merahmati Imam Ath-Thabrani dan menjadikan karya-karyanya sebagai jembatan ilmu bagi kita semua.
📖 "Barang siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga." – HR. Muslim.