Suara nanda
par Akun pribadi ke 2 Kota Tanpa Buku
Pernahkah kau ke toko buku, perpustakaan, atau taman bacaan? Tidakkah kau merasa istimewa ketika berada di dalamnya? Di sekelilingmu ada berbagai tokoh dari dunia nyata dan khayal, tempat yang pernah kau kunjungi dan yang belum, informasi dan cerita dari masa lalu, masa kini, dan masa depan. Semua berpadu, semua berada dalam genggamanmu.
Saat berada di antara buku, tidakkah kau merasa menjadi raja dan ratu? Ruang dan waktu seolah menyatu tanpa batas. Kau bisa terbang melintasi sekat negara dan melewati berbagai zaman. Kau bisa menyelam ke dalam samudra, melayang di angkasa, bercanda dengan aneka satwa, dan berkelana di tengah padatnya kota, juga di rimba raya.
Kau tahu, buku adalah jendela dunia, kunci pengetahuan, dan pintu wawasan. Mohammad Hatta sang proklamator berkata, “Aku rela dipenjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.”
Melalui buku, manusia terbebas dari ketidaktahuan. Tempat-tempat yang dipenuhi buku adalah harapan berkembangnya pengetahuan dan wawasan.
Apa jadinya jika kota tanpa buku? Pantaskah dia disebut kota?
Di kota itu, mungkin kabar datang dari sumber lain, dari koran, televisi, atau internet. Mungkin informasi dan cerita datang dari cerita nenek moyang, atau dari dongeng-dongeng yang disampaikan turun-temurun. Bangun pagi, bertebaran di muka bumi untuk berbagai keperluan, untuk kembali pulang siang atau sore harinya. Setelah itu mereka berangkat tidur dan memulai lagi hari berikutnya. Semua serupa.
Di kota itu, mungkin ada bangunan bernama perpustakaan. Di dalamnya, buku-buku berderet dalam rak yang tak terjamah. Tiada tangan meraih dan membuka halaman demi halaman dengan sukacita. Mungkin juga ada tumpukan buku di sudut-sudut sekolah yang sepi dan berdebu, jarang dikunjungi apalagi dibaca. Buku-buku di sana teronggok tanpa nyawa.
Bagaimana dengan kotamu?
Mungkin kau tinggal di tengah kota yang megah, atau di gang sempit, di desa terpencil, di sisi pesisir, atau di kaki gunung. Adakah perpustakaan, taman bacaan, atau toko buku di dekat rumahmu?
Jika ada, apakah tempat itu menjadi wadah berkumpulnya anak-anak dan warga, menjadi pusat berkembangnya pengetahuan dan wawasan, atau hanya menjadi pajangan? Maukah kau menjadi orang yang menghidupkannya? Kau bisa mengunjunginya dan mengajak teman-temanmu membaca dan berbagi cerita di sana. Jadikan tempat itu sumber kegembiraan dan pengetahuanmu.
Jika tidak ada, maukah kau menjadi orang yang mulia mendirikannya? Kau bisa memulainya dari sebuah sudut di rumahmu. Kau bisa mengumpulkan buku dari keluargamu, tetangga, atau temanmu. Ajaklah mereka saling meminjam, bersahabat dengan buku.
Bayangkan betapa gelap dunia ini bila harus dilalui dengan waktu berlalu tanpa buku. Siapa pun dirimu, carilah dan bacalah buku. Dia akan menjadi teman setiamu sepanjang waktu.