Suara Grand Master
por Hamid AlfariziChapter 6010 – Benih di Tengah Kekosongan
Di tengah kehampaan tak berujung, angin hitam yang tak bersuara melintas perlahan seperti kabut tua yang kehilangan arah. Waktu tidak mengalir, ruang tidak bergetar, dan hukum langit tidak bersinar di tempat ini.
Sebuah kapal perang besar melayang diam-diam, tubuhnya dilindungi oleh formasi pelindung tujuh lapis. Di dalamnya, sekelompok wanita berkumpul dengan wajah ceria, namun mata mereka tidak luput dari kehati-hatian. Di sisi lain kapal, seorang pria berdiri sendiri di ujung geladak, jubahnya berkibar tertiup angin kosong.
Yang Kai berdiri diam, merasakan arus tak kasat mata yang melintas di sekelilingnya. Ini adalah kali pertama ia benar-benar menembus lapisan terdalam dari kekosongan. Tempat ini bahkan tidak memiliki nama. Bukan bagian dari tiga ribu dunia, bukan pula medan perang bangsa Mo—ini adalah ruang kosong sebelum semua hukum ditulis.
Ia mengangkat tangan.
Salah satu dari sepuluh bibit pohon dunia muncul dari dalam cincin semesta, berdenyut pelan seperti nadi.
"Cocok di sini," gumam Yang Kai.
Dengan gerakan halus, ia menanam bibit itu di tengah ruang kosong. Akar tak terlihat segera tumbuh dan menusuk ke dalam kehampaan. Dalam waktu sekejap, cahaya hijau samar muncul, membentuk jalur halus yang mengarah ke suatu tempat yang jauh.
"Bibit pertama ditanam," katanya sambil menghela napas ringan.
"Dapatkah kita kembali nanti?" Suara lembut datang dari belakang. Su Yan melangkah mendekat, matanya menatap akar yang menghilang ke dalam gelap.
Yang Kai mengangguk. "Jika tidak ada pohon, kita akan tersesat selamanya. Tapi selama akar ini tumbuh, akan selalu ada jalan pulang."
Kelompok gadis lainnya juga muncul satu per satu. Xue Yue, Xia Ningchang, Yu Rumeng, Shan Qingluo, Yao Lin... mereka semua memperhatikan pohon kecil yang tidak tampak itu dengan penuh rasa ingin tahu dan sedikit kecemasan.
"Tujuh hari lagi, kita akan menanam bibit berikutnya," ujar Yang Kai tenang. "Untuk saat ini, mari kita lanjutkan."
Kapal perang bergerak perlahan. Energi dari mesin ruang internalnya hanya sedikit berfungsi di daerah ini. Setiap kilometer harus didorong oleh kehendak dan kekuatan hukum Yang Kai sendiri.
Di waktu tenang itu, percakapan ringan kembali mewarnai perjalanan mereka.
"Aku masih tidak percaya kita benar-benar meninggalkan tiga ribu dunia..." bisik Xia Ningchang.
Yu Rumeng mendengus. "Kalau tidak karena aku paksa, kau pasti tetap tinggal bersama anak-anak itu."
"Aku juga tidak menyangka kapal ini punya ruang istirahat seluas kediaman Kaisar Langit!" kata Xue Yue sambil berputar-putar.
Yang Kai tersenyum kecil, tapi tatapannya tetap tajam menatap kehampaan.
Tiba-tiba, alisnya berkerut.
Gelombang samar terasa, sangat samar, hampir seperti ilusi.
Namun, seseorang seperti Yang Kai tidak mungkin salah.
Ia mengangkat tangan, menghentikan kapal. Semua orang langsung siaga.
"Ada sesuatu," gumamnya. "Gelombang... bukan dari ruang, bukan dari waktu. Tapi seperti panggilan."
"Apakah itu jebakan?" tanya Su Yan serius.
Yang Kai menggeleng. "Jika jebakan, pasti mengandung hukum. Ini tidak. Ini... lebih tua dari hukum."
Semua orang saling pandang. Mata mereka penuh tanya dan kecemasan.
Arah kapal berbelok. Dalam keheningan yang bahkan tidak memiliki gema, mereka menembus lapisan kehampaan seperti pisau menembus sutra.
Tiga hari kemudian, mereka tiba di ujung arus.
Di depan mereka...
Sebuah gerbang.
Atau lebih tepatnya, bayangan dari gerbang. Bentuknya tidak jelas, tapi kehadirannya dapat dirasakan oleh setiap jiwa di kapal.
Gerbang itu tidak memiliki bentuk fisik. Ia berubah bentuk setiap saat—kadang seperti bunga teratai, kadang seperti segitiga hitam, kadang seperti mata raksasa yang memejam.
"Bahkan mata ilahi pun tidak dapat memastikannya," gumam Yang Kai.
Shan Qingluo menelan ludah. "Apa itu... artefak kuno?"
"Lebih seperti... sisa kehendak dari sesuatu yang tidak semestinya ada," jawab Yang Kai perlahan.
Pintu itu tidak terbuka. Tapi juga tidak tertutup. Seolah-olah menunggu seseorang—atau sesuatu—untuk mengakui keberadaannya.
Tiba-tiba, sepuluh bibit pohon dunia di cincin semesta Yang Kai bergetar bersamaan. Cahaya hijau muncul dari masing-masing, membentuk garis-garis kecil yang mengarah... ke dalam gerbang itu.
Yang Kai tercengang.
“Pohon Tua, kau tahu ini?” ia bertanya dalam hati.
Tak ada jawaban. Tapi bibit-bibit itu terus bergetar.
Langkah-langkah berat menghantam lantai kapal. Yu Rumeng maju, berdiri di sisi Yang Kai.
"Kita tidak datang sejauh ini untuk berhenti di depan pintu yang tidak bisa dijelaskan," ucapnya tajam.
Yang Kai tersenyum tipis. "Benar."
Dia melangkah maju, mengangkat tangan.
Gerbang itu... membuka.
Bukan dengan bunyi gemuruh atau kilatan cahaya, tapi seperti air tenang yang terbelah. Di baliknya, tampak sebuah dunia yang tidak memancarkan Dao apa pun.
Kosong.
Tapi... hidup.
Di kejauhan, tampak sisa reruntuhan langit, bangunan terbelah, dan jejak langkah raksasa yang membatu di tengah udara.
Yang Kai melangkah maju.
"Sambutlah dunia pertama di luar Dao."
Martial Peak Fanmade Chapter 6011 – Dunia yang Tidak Diberi Nama
Yang Kai melangkah memasuki gerbang tanpa bentuk itu, langkahnya mantap namun perlahan. Di belakangnya, para wanita mengikuti dengan tatapan penuh kewaspadaan. Cahaya di sekeliling mereka lenyap, digantikan oleh kabut kelabu yang menggantung di udara, tak terbawa angin, seolah-olah waktu pun enggan bergerak.
Tidak ada langit. Tidak ada tanah. Tapi mereka tidak jatuh. Di sekeliling, hanya hamparan reruntuhan mengambang—puing-puing langit, patahan gunung yang melayang, dan potongan istana kuno yang terpotong seperti digergaji oleh sesuatu yang tidak terlihat.
Satu langkah… dua langkah… tiga langkah.
Setelah langkah ketiga, seluruh kapal perang berderak halus, lalu kehilangan daya. Formasi tidak berfungsi. Energi dunia tidak bisa ditarik. Bahkan kekuatan Open Heaven para wanita pun terasa tumpul dan menyusut.
Su Yan mengerutkan kening. "Energi di sini tidak sesuai dengan hukum mana pun yang kita kenal..."
Yang Kai mengangguk. "Tempat ini tidak berada dalam cakupan tiga ribu dunia, juga bukan bagian dari kehampaan murni. Ini seperti... serpihan dari sesuatu yang lebih kuno daripada hukum itu sendiri."
Xia Ningchang memejamkan mata, mencoba menarik energi. Tapi kekuatan medis dan penyembuhannya hanya berputar di tubuh, tidak bisa merambat keluar.
"Apa kita terperangkap?" tanya Yu Rumeng, suaranya datar namun dalam.
Yang Kai tidak menjawab. Ia mengangkat satu bibit pohon dunia dan mencoba menghubungkannya dengan akar utama. Tapi bibit itu tidak bereaksi.
Namun saat bibit itu disentuhkan ke udara, seberkas cahaya biru muda menyala perlahan, membentuk lingkaran samar seperti riak di permukaan air. Dalam riak itu, tampak sebuah simbol.
Semuanya terdiam.
Simbol itu bukan karakter, bukan gambar. Hanya bentuk tak sempurna yang terasa... familiar. Namun tak satu pun dari mereka bisa menyebut namanya.
Yang Kai bergumam: "Aku pernah melihat simbol ini..."
Xue Yue mendekat. "Dimana?"
Tatapan Yang Kai membeku. "Di dalam ruang waktu milik Mu."
Semua orang tercengang.
Mu—sosok misterius dari zaman kuno, pendiri teknik pemurnian dunia, penjaga terakhir tiga ribu dunia, wanita yang jejaknya tersebar di berbagai lipatan ruang dan waktu, namun tak pernah terlihat wujudnya secara utuh.
Yang Kai pernah masuk ke dalam ruang peninggalan Mu saat melawan bangsa Mo. Di sana, ia melihat simbol ini terukir di salah satu dinding perintah.
"Berarti ini dunia yang dia segel," ujar Su Yan pelan.
"Atau dunia yang tidak pernah berhasil dia bersihkan," timpal Shan Qingluo dengan ragu.
Yang Kai menyimpan bibit kembali. "Tidak ada jalan mundur sekarang."
Mereka melanjutkan perjalanan. Setiap langkah diiringi rasa aneh—seakan ada mata yang mengawasi dari balik puing-puing.
Setelah beberapa saat, mereka tiba di sebuah dataran terapung. Di tengah dataran itu, berdiri sebuah monolit besar setinggi seratus zhang, tertancap miring ke tanah.
Monolit itu penuh retakan, tapi pada permukaannya terukir satu kalimat:
「Tidak Semua Jalan Perlu Diikuti Hingga Akhir」
Seketika, Yang Kai merasakan tekanan luar biasa menimpa dadanya. Bukan tekanan kekuatan, tapi tekanan dari pemahaman.
Kalimat itu terasa... seperti peringatan.
Xia Ningchang jatuh terduduk, wajahnya pucat. "Tempat ini terlalu berat... bahkan pikiranku seperti tidak utuh."
Yang Kai menarik napas panjang. Ia menepuk kepala Xia Ningchang dengan tenang, memulihkan pikirannya dengan kekuatan ruang-waktu.
"Tempat ini bukan untuk ditinggali, bukan juga untuk dimasuki," gumamnya. "Tempat ini... disembunyikan."
Ia memandang sekeliling reruntuhan.
Tiba-tiba, dari balik langit kelabu, sebuah cahaya keemasan muncul—tajam, dingin, dan sangat asing.
Semua orang langsung siaga.
Namun yang turun bukan serangan, melainkan proyeksi. Di tengah udara, muncul siluet samar seorang wanita berjubah putih. Wajahnya tak terlihat, tapi auranya menggetarkan jiwa.
Yang Kai menatapnya tanpa berkedip.
Siluet itu membuka mulut, dan suara bergema di setiap ruang.
"Jika kau mendengar ini, maka warisan dunia lama telah membukakan jalur bagimu."
"Tempat ini bukan milik langit, bukan milik bumi, bukan pula milik siapa pun."
"Ia adalah… Dunia yang Tidak Diberi Nama."
"Di sinilah 'Ia' dilahirkan, dan di sinilah ia dimakamkan."
"Jangan cari kehendakku di sini. Yang tersisa hanyalah penggalan bayangan… dan sebuah harapan."
Suara itu berhenti. Proyeksi memudar. Namun sebelum hilang, siluet wanita itu menoleh sedikit... dan menatap Yang Kai—langsung ke dalam jiwanya.
Yang Kai terdiam. Su Yan memegang tangannya, khawatir.
"Lukisan ingatan," katanya perlahan. "Itu... adalah peninggalan dari Mu."
"Tempat ini mungkin... awal dari semua hukum. Atau sisa dari yang telah ditolak oleh langit."
Tiba-tiba, di bawah tanah mereka, permukaan dataran retak. Dari retakan itu, sebuah kristal hitam mencuat perlahan, memancarkan aura yang tidak bisa dijelaskan.
Yang Kai mendekat. Matanya menyipit.
"Ini... bukan harta."
"Ini adalah... ingatan."
Dengan satu sentuhan, kesadarannya terseret masuk.
Di dalamnya, terbuka pemandangan kuno—dimana langit belum punya warna, hukum belum tertulis, dan satu makhluk tak bernama berjalan sendirian di antara kekosongan.
Ia tidak membelah Dao. Ia tidak memurnikan dunia. Ia hanya... menjadi pusat dari semua kekacauan.
Yang Kai menarik napas tajam dan membuka mata.
"Ini bukan dunia yang dilupakan."
"Ini adalah tempat dimana semua Dao dilupakan."